Tuesday, March 17, 2009

dapatkah kita (manusia) menggunakan pikiran pada saat hanya dibutuhkan?

dalam retreat meditasi 3hari mengenal diri yang baru saja aku ikuti (terakhir aku ingat adalah keharusan ikut retreat saat aku smp/sma di sekolah putri, karna wajib diikuti - hasilnya? entah yaa....); kami yang terdiri dari majoritas adalah pere sekitar 20 orang - disyaratkan untuk diam alias tidak boleh saling berkomunikasi dengan sesama peserta, termasuk eye contact, dan/ berhubungan dengan dunia luar melalui telekomunikasi. Kebayangkan... pere sekian banyak (dan sekian hari...) gak bisa mengekspresikan energy alam yang kita punya. Mengerikan!!!

di dalam keheningan itu, kita belajar mengenal diri - dengan sadar.
Lah, selama ini emang ada apa dengan kita? emang kita gak kenal diri sendiri gitu? emang kita gak sadar? entahlah... aku hanya mengikuti kesempatan yang ada... untuk hening, untuk sendiri, untuk diri, lepas dari semua atribut yang selama ini kita kenakan untuk survival of the fittest. lepas dari semua label, lepas dari tanggapan/response yang diberikan oleh pancaindra (secara external) dan indra 'keenam' (secara internal). mencoba mengamati pikiran yang kaya monyet, karena kesenangannya loncat loncat (alias pop up). peserta diingatkan bahwa dalam meditasi ini, kita tidak memiliki tujuan. kita hanya mengamati, mengenali diri ke dalam, menyadari, SADAR. sadari, bahwa ada Rintangan Batin yang membuat kita tidak sadar untuk hidup dalam kekinian, saat ini, present moment. Sadar bahwa keinginan, ketidaksenangan, gelisah, bosan, khawatir... membawa kita menjauh dari keSADARan.

menyadari... pancaindra menerima rangsangan dari luar; mendengar angin dan kicau burung, mendengar kendaraan yang berlalu lalang, merasakan dinginnya air saat mandi, merasakan makanan yang masuk ke mulut, dikunyah, hancur, kecapan rasa, dan melalui tenggorokan mereka hilang dan meresap dalam tubuh. melihat rumput hijau yang kita injak & merasakan kasarnya gesekan antara rumput & kerikil dengan telapak kaki kita, melihat tupai berlari di kabel listrik, melihat semut-semut berbaris, melihat belalang, mencium harumnya tanah basah di pagi hari, merasakan kehadiran embun pagi hari, melihat indahnya bunga teratai di kolam, gerak gerik ikan dan kecebong, ternyata anjing suka iseng nangkap ikan di kolam lalu dibawa pergi disembunyikan dibalik pohon ;)) kagum dengan kesederhanaan para biksu..., sadar akan detak jantung, sadar bahwa mata kita berkedip dan menutup jika sinar yang masuk dan ditangkap mata melebihi kapasitasnya, sadar bahwa terkadang kita merasa bosan dengan keadaan stagnan, sadar bahwa kita menguap jikala kita cape atau bosan, sadar akan...

menyadari... indra 'keenam' berasal dari dalam diri, menyuarakan emosi atas peristiwa dan pengalaman masa lalu - waktu yang lampau, atau baru saja berlalu. ada emosi yang mengiringi saat muncul dalam pikiran yang terus bergerak..: marah, duka, benci, irihati, cemburu, sedih, luka, senang, bahagia, gembira. ada pula keinginan, berharap dan pengharapan, ambisi, keraguraguan, kekhawatiran dan lainnya untuk kehidupan mendatang.

sore jumat itu aku tiba di 'siripada', mengamati keadaan sekitar, mandi dan bersiap menunggu acara dimulai. kulihat 5 tangkai bunga teratai ungu di kolam panjang dengan ikan dan kecebong didalamnya. indah, dan bermekaran diantara helai helai daun hijau. aku pikir, aku akan mengambil fotonya setelah acara selesai dihari minggu.

malam hari saat aku break karena kebosanan dalam duduk bermeditasi, aku pun berjalan keluar mengelilingi kolam dan area lainnya. akupun tersadar, bahwa objek fotoku menghilang. bunga teratai itu, kelima bunga teratai itu menghilang. pasti sudah layu dan rontok. wah... hilang sudah objek fotoku. aku menyesali karena sore tadi kenapa tidak langsung saja aku ambil kamera. yasudahlah... gak jodoh pikirku. jadi, akupun kembali melakukan meditasi dengan berjalan.

Saat aku mengamati, dan sadar dengan gerak langkah kakiku... gerakanku terasa melambat. bukan diperlambat dan sadar, tapi sadar dan kutemukan itu melambat. kucoba untuk melihat ke kiri dan ke kanan, tubuhkupun ikut bergerak searah kemana mataku memandang. terasa telapak kakiku mengangkat dan menjejakkannya, dari tumit telapak kaki sampai 3/4 kaki mengangkat dan membebani 1/4 kaki sampai semua jari kaki yang menekuk. amazing... waktupun terasa melambat. tak ada keinginan, tak ada pikiran, hanya kesadaran penuh. kunikmati 'slowmotion' ini, dan akupun tertawa.
entah mengapa, aku menjadi hanyut dalam adegan ini... dan jadi melamun, segera pikiran kembali bergerak dan memberi label. waktupun kembali normal (menurutku), dan aku kembali bergerak cepat. WOW.

malam telah larut, dan kitapun tidur bersama dalam satu hall beralaskan matras. Malam itu, aku (ataw mungkin yang lain juga) tidur dalam keheningan. aku merasakan tidur yang nyenyak, dan dalam. yang pasti, saat bangun dini hari (program meditasi pagi dimulai pk 03.00, ternyata body alarm automatically men-set diriku untuk bangun sepagi itu tanpa perlu bantuan alarm), aku bangun dengan segar bugar. begitu aku menantikan saat tenang duduk dalam hening, tanpa pikiran yang membuat aku cape dan letih.


hari kedua aku lalui tanpa rasa, aliat flat-mode. tapi asyik asyik aja sih buatku. hanya rasa keingintahuanku begitu tinggi, kenapa aku gak merasakan apa-apa. maksud, hari itu aku gak bisa berkonsentrasi, tapi pikiranku juga gak bergerak. aku duduk, jalan, duduk, jalan, jalan, jalan, duduk, duduk... berganti posisi bergantian saat aku mulai bosan atau cape. siang hari kami diberi kesempatan untuk beristirahat selama 2 jam, dan buatku, tidur 2 jam tersebut rasanya nikmattttttttttt banget. so refreshing, and me-recharge body mind and soul. terasa cukup. pada kesempata diskusi malam hari, kami mendengarkan beberapa peserta yang bertanya ataw men-sharingkan pengalaman meditasinya termasuk aku yang bertanya mengapa aku merasa frustasi dalam meditasi ini. pembimbing kami hanya mengatakan bahwa setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda, dan setiap meditasi memiliki sensasi yang memang berbeda. mungkin aku berharap sesuatu, mungkin aku menginginkan sesuatu, dan kecewa dengan realtime-saat ini. buatku, hari kedua terasa lama berlalu karena YA, aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan atau impikan. tapi aku juga gak complaint. buatku, mungkin meditasi ini gak cocok dengan apa yang aku cari. tapi, waktu ini sangat berharga untuk diri sendiri. untuk kesendirianku.


keesokan harinya, dimulai dengan program harian yang sama, aku merasakan kekhawatiran dan keraguan mulia bermunculan. aku mulai mempertanyakan, apa maksud kehadiranku disini, apa pesan buatku... karena aku percaya, tidak ada yang kebetulan. apa hubungannya dengan kebosanan aku bermeditasi dalam seminggu terakhir sebelum aku ikutan program ini, bosan karena aku tidak mengalami pengalaman spritual yang berarti menurutku.

pada kesempatan diskusi terakhir dan personal, aku mempertanyakan hal ini kepada pembimbingku, kenapa 3 hari yang aku lalui tersebut, 3 hari yang aku nanti nantikan sejak sebulan sebelumnya, 3 hari yang aku rencanakan (bahkan aku berdoa dengan niat penuh) bahwa aku akan mendapatkan petunjuk, mendapat jalan, mendapat kekuatan dalam menentukan pilihan, mendapat 'pencerahan'... tidak sedikitpun memberikan jawaban padaku sehingga membuatku frustasi.


pak hud kemudian bertanya, apa yang aku alami. kejadian apa yang aku sadari. aku pun menceritakan pengalaman ‘slowmotion’ku sampai aku kembali normal versi aku, dan satu hal yang ruarrrr biasa: bahwa aku melihat dengan sadar dan jelas... bagaimana bunga teratai (object foto) ku ternyata bermekaran saat hangatnya mentari mengenai daun kelopak dan batang serta kembali menguncup saat sinar matahari tidak lagi didapatkan oleh daun kelopak dan batang teratai tersebut. aku menceritakan bagaimana aku bisa dengan sadar terduduk mengamati berkembangnya bunga teratai tersebut:


pagi itu, saat aku hanya berjalan mengitari kolam (setelah sarapan dan mandi pagi), saat hangatnya mentari mulai terasa dikulitku... aku merasakan keinginan untuk duduk dan mengamati bunga teratai yang aku pikir telah ‘gagal’ menjadi objek fotoku.

kulihat dengan jelas, kuncup bunga itu merekah just as seen on tv ;))
perlahan helai hijau kelopak itu membuka diri... satu..dua..tiga..empat.. perlahan, hening, lembut. indah. berlangsung dengan teratur. tidak terganggu dengan kehadiranku didepannya (atau belakangnya?). kemudian helai kelopak bunga ungu membuka, satu demi satu. kurasakan bahwa bunga itu membuka diri secara utuh dan total, untuk semesta untuk alam untuk sekitarnya dan untukku. bunga itu membuka diri tidak memilih... kurasakan sebagai kepasrahan total, tanpa tetapi. suatu kejujuran yang utuh. detik itu atau moment itu kurasa seperti tanpa batasan, tanpa kendali, tanpa waktu, hanya saat itu, tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, waktu tidak bergerak. kulihat semua sama, flame itu sama dimana mana. tidak ada tingkatan, tidak ada bentuk. bunga, pohon, kerikil, gedung, ikan, kucing, manusia dan jiwa-jiwa yang ada, kursi, patung. indah, baik, buruk, besar, kecil, laki-laki, perempuan, kulihat semua sama.


aku merasakan waktuku adalah waktumu, aku adalah kamu, aku bersamanya dalam keheningan. kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. suara itu begitu jelas terdengar, dan aku sadar bahwa mata ini tidak tertutup. aku melihat semua sama. aku merasakan sebuah cinta universal, sebuah cinta tanpa batas. aku merasakan cinta itu, pure love untuk semua. airmataku mengalir tanpa kusadari, aku tidak sedih, aku tidak bahagia. aku hanya bebas.


lalu aku kembali bertanya, kenapa aku frustasi?

pak hud hanya mengingatkanku atas rintangan batin… dan untuk tetap secara konsisten menyediakan waktu buat hening. tidak menginginkan, tidak berharap. itu akan datang seperti pencuri; tanpa diundang, tanpa memberitahu. nikmati saja. sama dengan kehidupan. sensasinya akan berbeda-beda, suatu saat hanya diam seolah tak bergerak. kita adalah penonton, untuk menikmati, untuk melihat, tidak terlibat didalamnya. seperti kita menonton panggung pertunjukkan. detachment tidak dapat dipaksakan.

saat pikiran bergerak, saat yang bersamaan pula memunculkan kembali dualitas aku adalah subjek, yang lain adalah objek objek; dan waktu (masa lalu – masa depan). pikiran tidak mampu menangkap saat ini. hanya dengan sadarlah kita mampu melihat kekinian, dan mensyukuri segala hal-peristiwa sebagai berkat dan pengalaman jiwa.


dapatkah kita (manusia) menggunakan pikiran pada saat hanya dibutuhkan?

silahkan menikmati.......


seperti kata pak hud; lupakan ini, lupakan semua. kata-kata akan memainkan peranannya sendiri membawa kita jauh dari BEBAS sebagai tujuan akhir perjalanan jiwa.

membuatku segera ingin membaca 'The Experience of NO-Self, by Bernadette Roberts' diterjemahkan oleh Hudoyo Hupodio.

No comments:

Post a Comment